Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Wali Kota Ajak Pelajar Naik Sepeda ke Sekolah

26

PONTIANAK-Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengimbau kepada para pelajar yang belum cukup umur agar mau bersepeda ke sekolah. Ini menjadi salah satu solusi setelah dikeluarkan kebijakan yang melarang pelajar bawah umur mengendarai motor ke sekolah. “Untuk tahun ini sudah ada bantuan dari Pemkot sebanyak 200 unit sepeda untuk pelajar se-Kota Pontianak,” ungkapnya, Kamis (1/9).

Pelajar dan orang tua juga dianjurkan jangan suka pilih-pilih lokasi sekolah. “Coba lihat sekarang ada anak SD tinggal di timur tapi sekolahnya di selatan, padahal nilai terbaik ada di SD Timur dan Utara,” kesalnya.

Untuk itu Pemkot juga akan menggalakkan pembangunan sekolah terpadu antara SD dan SMP. Sehingga pelajar yang sudah tamat SD tidak boleh sekolah di SMP lain selain di SMP terpadu tersebut. “Kami sudah anjurkan pilih sekolah yang dekat sehingga bisa jalan kaki atau pakai sepeda. Kami juga terus berbenah membangun SMP agar mendekatkan dengan tempat tinggal,” katanya.

Sutarmidji menambahkan, razia terhadap pelajar yang membawa sepeda motor ke sekolah akan terus dilakukan. Dia berharap kebijakan ini tidak membuat orang tua siswa marah, karena ini merupakan bentuk kecintaan dan kesayangan pemerintah kepada anak-anak di kota ini.

“Coba saja lihat data, berapa banyak anak yang sudah jadi korban kecelakaan, padahal mereka belum boleh membawa motor,” ucapnya.

Menurutnya untuk razia tahap pertama ini pelajar hanya diminta membuat pernyataan dan diketahui orang tua. “Tapi jika nanti masih juga seperti itu akan segera ditilang, ditambah subsidi iuran sekolah dicabut, jadi harus bayar, tidak ada lagi sekolah gratis untuk mereka,” tegas wali kota yang telah menjabat dua periode ini.

Selain bersepeda dia juga menyarankan kepada para orang tua agar mau mengantar anak mereka ke sekolah. “Terus jika ada yang kebetulan memiliki abang atau saudara, sudah cukup umur dan memiliki izin membawa motor, maka bisa ikut menumpang,” sarannya.

Terkait solusi jangka panjang, semisal disediakan angkutan umum untuk para pelajar, dijelaskannya, dulu Pemkot Pontianak pernah menyiapkan enam unit bus sekolah yang disubsidi hampir Rp300 juta per tahun. Akan tetapi tidak banyak pelajar yang berminat naik bus ke sekolah.

Kemudian untuk opelet dari 760 izin trayek yang beroperasi sekarang hanya tinggal 250 saja. “Lalu juga ada bus kota, dari 32 izin trayek sekarang satu pun tidak ada yang jalan lagi, karena tak ada penumpang,” pungkasnya.(bar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

10 − 7 =