Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Sindrom Pasca Menikah

11

Sesudah menikah, akan menemukan banyak hal yang berbeda dari pasangan. Bahkan mungkin jauh dari apa yang dibayangkan. Sindrom pasca pernikahan pun menghantui. Bila tak segera diatasi, bisa memicu masalah dalam rumah tangga. Oleh : Marsita Riandini

MENIKAH diartikan beragam oleh banyak orang. Ada yang menganggap selain  penggabungan dua manusia yang berlainan jenis untuk mendapatkan status halal atau legal, baik secara agama maupun secara hukum, menikah juga berarti menikahkan permasalahan yang dibawa si lelaki maupun si perempuan itu. Itu sebabnya, sebelum menikah ada berbagai persoalan yang dipikirkan calon pengantin, bahkan ketika mendekati hari pernikahan, pikiran terus bercabang-cabang. 

Tak hanya sebelum menikah saja, sudah menikah pun ada orang yang tetap merasakan kecemasan. Perubahan status dari lajang menjadi menikah bagi sebagian orang akan sedikit mengagetkan. Kenyataannya, kini dia sudah menginjak tahap yang lebih lanjut dan lebih serius dalam sebuah hubungan, tetapi pelbagai kekhawatiran muncul. Apakah semua pasangan mengalami hal ini?

Menjawab For Her, Romi Arif Rianto, S. Psi, Psikolog mengatakan bahwa tidak semua orang merasakan sindrom pasca pernikahan atau bridal blues syndrom. Tetapi secara umum setiap pasangan akan menemukan berbagai tantangan dalam berumah tangga.  Masalah bisa berasal dari sebelum menikah, masalah yang dibawa pasangannya, dan masalah yang timbul dari pernikahan itu sendiri. “Orang tertentu saja yang merasakan sindrom pasca pernikahan. Ini karena ketidaksiapan dia menerima perbedaan. Apalagi adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan setelah menikah,” ucap salah satu pendiri Biro Konsultasi Persona ini.

Perbedaan karakter, juga suasana baru yang dirasakan menjadi faktor pemicu sindrom pasca nikah. “Tadinya sebelum menikah si suami kok orangnya begini, setelah menikah kok berubah. Tadinya tinggal di rumah orang tua, sekarang tinggal di rumah mertua, dan hal-hal lain yang membuat dia merasakan ketidaknyamanan,”  papar dia.

 

Sindrom pasca menikah ini biasanya dimulai pada fase awal menikah, setelah bulan madu. “Biasanya baru terjadi setelah bulan madu. Mulai melakukan penyesuaian dengan hal-hal baru dari pasangan maupun lingkungan pasangannya. Ketika tidak sesuai dengan harapan, lalu menjadi syok, muncullah sindrom pasca nikah,” jelas dia.

Tak hanya perempuan saja yang bisa mengalami sindrom pasca nikah, pria pun bisa merasakannya. Hanya saja, sifat pria yang cenderung tertutup membuat apa yang dirasakannya tidak tampak.

Berbeda halnya dengan sindrom pasca menikah, sindrom sebelum menikah biasanya membuat orang cemas apakah nanti bisa menjalani rumah tangga, bisa membagi waktu antara keluarga dan karir, bisa tidak menjadi istri yang baik.

Banyak kekhawatiran yang muncul. Bagi pria biasanya akan merasa apakah nanti bisa menabung untuk membeli rumah, menghidupi istri dan anaknya, dan sebagainya. “Kalau sebelum menikah ini biasanya dua minggu mendekati hari H. Ini yang kemudian biasanya adanya kecemasan, muncul pertanyaan besar apakah dia jodohku,” pungkas dia. **

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

18 + 5 =