Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Sampaikan Kenangan ke Praha

46

PERISTIWA 1965 memang hampir terlupakan dalam ingatan dan hanya menjadi bagian sejarah yang sedikit terungkap. Seperti gelembung kecil yang terangkat ke permukaan air, peristiwa tersebut meletus dan hilang dari kenangan. Itulah yang ingin diungkap sutradara Angga Dwimas Sasongko dalam film Surat dari Praha (2016). Dengan cara penyampaian kekinian, dia ingin menampilkan pergolakan batin korban peristiwa politik 1965 dengan nuansa romansa dan musikal.

Cerita berawal dari guncangan batin yang dirasakan Sulastri (Widyawati Sofyan). Hubungannya dengan keluarga dan anak perempuannya, Larasati (Julie Estelle), cenderung renggang dan tak harmonis. Meski begitu, saat terserang penyakit yang tak dapat disembuhkan, Sulastri tetap memercayakan benda miliknya yang paling berharga kepada Larasati. Benda tersebut berupa surat yang ditujukan kepada seorang bernama Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo) di Praha, Republik Ceko. Mengetahui Jaya adalah mantan tunangan ibunya, Larasati mengira bahwa ketidakharmonisan keluarganya disebabkan Jaya.

Dengan terpaksa, Larasati bersedia menemui Jaya di Praha dan menyampaikan pesan sang ibu. Masa lalu Jaya dan Sulastri pada 1965 akhirnya terungkap. Laras yang sejak awal membenci Jaya berusaha memahami kisah cinta rumit mereka. Kisah itu secara tak langsung disebabkan konflik politik pada 1965 yang mungkin sulit dipahami generasi saat ini. “Peristiwa 1965 hanya menjadi latar belakang sejarah dan karakter,” ungkap Angga. Meski permasalahan yang diceritakan merupakan peristiwa 1965, film itu tak mengandalkan flashback dengan scene 1965. “Tak ada flashback sama sekali pada film ini. Aku pengin ceritanya relevan dengan pergulatan batin yang dirasakan tokoh pada masa kini,” ujar Angga.

Selain mengungkapkan “sisi” lain peristiwa 1965, Angga ingin menyampaikan penghargaan kepada penyanyi Glenn Fredly lewat film garapannya tersebut. Lagu Glenn menjadi ide cerita yang membalut unsur politik

yang diimbuhkan. “Film ini merupakan retrospektif saya terhadap perjalanan karir Glenn dalam wujud film,” jelas sutradara Filosofi Kopi (2015) tersebut.

Beberapa lagu Glenn dinyanyikan sejumlah aktor selain Julie Estelle dan Tio Pakusa dewo. Empat lagu terpilih untuk menjadi soundtrack film tersebut. Dalam sebuah scene, penonton akan dibuat “hanyut” saat Julie Estelle membawakan lagu “Nyali Terakhir”. Dalam film itu, untuk kali pertama, Julie bernyanyi. Selain itu, tiga lagu yang akan membuat penonton terharu adalah “Sabda Rindu”, “Untuk Sebuah Nama”, dan “Menanti Arah”.

Karena ingin menceritakan korban peristiwa 1965, film itu pun mengambil banyak scene di Kota Praha, Republik Ceko. Proses produksi banyak dibantu perusahaan film lokal asal Ceko. Rumah produksi Three Brothers dipilih untuk mengatur semua kebutuhan selama di Praha. Merekalah yang bertanggung jawab meng-handle perizinan pembuatan film, keamanan, transportasi, akomodasi, dan konsumsi. Tak hanya itu, Angga bersama tim juga dibantu duta besar Ceko untuk Indonesia.

Salah satu film drama pada awal 2016 tersebut cocok dinikmati bagi penyuka karya Glenn Fredly. Perasaan dan hubungan Jaya dan Sulastri itu secara tak langsung merupakan visualisasi lagu-lagu berlirik galau dan kental dengan suasana perpisahan atau patah hati karya Glenn.**

 

Ungkit Sejarah dalam Kisah Cinta

 

Pemeran: Widyawati, Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Rio Dewanto

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko

Produser: Angga Dwimas Sasongko, Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Handoko  Hendroyono

Penulis: Irfan Ramli

Studio: Visinema Pictures

Tayang: 28 Januari 2016

 

Teks foto tambahan

BEDA GENERASI: Film ini banyak bercerita tentang Jaya (Tio Pakusadewo) dan Larasati (Julie Estelle) yang beda generasi.

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

four × one =