Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Ringgit Berjaya di Dua Dusun, Lalu Lintas Uang Andalkan CU

15

MEGAHNYA Pos Lintas Batas Negara di pusat Kecamatan Entikong yang diklaim lima kali lebih bagus dari pos serupa di Tebedu, Sarawak Malaysia kontras dengan kondisi di Desa Suruh Tembawang. Desa ini punya 10 dusun, yaitu; Suruh Tembawang, Kebak Raya, Sekajang, Badat Lama, Badat Baru, Pool, Gita Jaya, Senutul, Gun Jemak, dan Gun Tembawang. 

Geliat Ekonomi di Perbatasan Suruh Tembawang (3)

Seperti kebanyakan daerah pedalaman, tidak ada bank yang mau masuk ke Desa Suruh Tembawang. Masyarakat mengandalkan Credit Union sebagai pusat penyalur uang. Selain itu, saking terisolirnya, ada dusun yang sehari-harinya bertransaksi dengan Ringgit Malaysia.

Aristono, Pontianak

MEGAHNYA Pos Lintas Batas Negara di pusat Kecamatan Entikong yang diklaim lima kali lebih bagus dari pos serupa di Tebedu, Sarawak Malaysia kontras dengan kondisi di Desa Suruh Tembawang. Desa ini punya 10 dusun, yaitu; Suruh Tembawang, Kebak Raya, Sekajang, Badat Lama, Badat Baru, Pool, Gita Jaya, Senutul, Gun Jemak, dan Gun Tembawang. 

Namun jangan bayangkan akses antardusun yang mudah di sini. Hanya Dusun Suruh Tembawang dan Kebak Raya saja yang berdekatan. Sementara dari pusat desa ke beberapa dusun lainnya, masih membutuhkan jalur sungai, dilanjutkan dengan jalan kaki berjam-jam.

Kendati demikian fasilitas di dua dusun terdekat, Suruh Tembawang dan Kebak Raya tergolong lengkap. Di sana ada SD dan SMP. Ada juga Polindes dan pusat informasi desa. Bahkan di sana ada radio komunitas, kendati jarang aktif. Ada juga balai desa yang cukup luas. Di tambah pusat instalasi pembangkit listrik tenaga mikro hidro.

Salah satu kendala adalah jaringan seluler. Signal belum sampai ke sana. Tahun lalu Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara meresmikan “Base Transceiver Station” atau menara pemancar jaringan Telkomsel di desa tetangga, yaitu Desa Pala Pasang. Namun signalnya hanya sampai sedikit ke Suruh Tembawang. “Bisa dapat signal, tapi mau naik ke bukit dulu. Jadi orang tidak bisa menelepon kita. Kita yang menelpon mereka. Jadi hanya satu arah,” ucapnya.

Sebagai informasi, Desa Suruh Tembawang memiliki 672 KK dengan 2419 jiwa jiwa. Sebagian besar sudah menggunakan Rupiah NKRI sebagai alat transaksi. Namun ada dua, yaitu Dusun Gun Jemak dan Dusun Gun Tembawang yang menjadikan Ringgit Malaysia sebagai mata uang utama.

“Dua dusun itu memang jauh sekali, dan lebih dekat ke Malaysia Mereka bukan tidak mau pakai rupiah, tetapi memang kondisi mereka tidak bisa menggunakan rupiah. Setiap hari mereka belanjanya ke Malaysia karena memang dekat, hanya berjalan kaki paling 30 menit saja,” jelas Gak Muliadi, sang kepala desa.

Dikatakan dia, warga di dua dusun itu sebenarnya tidak menginginkan menggunakan ringgit Malaysia untuk memenuhi keperluan, namun hal tersebut dianggap menjadi sebuah keharusan mengingat keadaan kawasan yang sangat jauh dari kawasan Indonesia. “Warga di dua dusun tersebut sama sekali tidak punya kendaraan, di tempat kami motor dan mobil satu pun tidak ada. Sementara kalau ke Malaysia jalan kaki hanya memerlukan waktu sebentar saja. Bandingkan kalau ke Entikong harus memakan waktu setengah hari, dan biaya jutaan rupiah,” paparnya.

Masyarakat Desa Suruh Tembawang juga belum mengenal perbankan. Tidak ada satupun bank yang mau masuk ke sana, lantaran jaraknya yang jauh, serta hitung-hitungan komersialnya. Tak heran, masih banyak warga yang menyimpan uang di bawah tempat tidur atau di dalam kaleng bekas biskuit. Beruntung ada koperasi simpan pinjam atau Credit Union yang menjadi pusat menabung dan meminjam di sana. Ada dua CU di sana, yaitu Lantang Tipo dan Muara Kopa. “Biasanya kami meminjam modal dari CU untuk modal membeli bibit sahang, pupuk dan lain-lain,” ujar Samsudin, seorang warga.

Credit Union juga sangat membantu untuk transfer bulanan anak-anak Suruh Tembawang yang bersekolah atau berkuliah di luar. Untuk melanjutkan SMA, anak-anak di sana harus merantau, paling dekat ke Entikong. Banyak juga yang berkuliah di Pontianak dan Pulau Jawa. “Anak saya kuliah di Untan Pontianak. Setiap bulan saya kirim dia uang melalui CU. Misalnya saya kirim sekarang, dia sudah bisa ambil hari itu juga. Tidak perlu berhari-hari sampai ke dia uangnya,” jelas dia.

Kepala Bank Indonesia Kalbar, Dwi Suslamanto mengatakan, berjayanya mata uang ringgit di Gun Tembawang dan Gun Jemak menjadi pekerjaan rumah pihaknya dan pemerintah. “Ini tentu menjadi PR bagi kami. Tetapi kondisinya memang tidak memungkinkan untuk setiap bulan kita melakukan kas keliling di sana. Untuk membangun bank umum, juga mungkin punya hitung-hitungan juga karena jarak dan efisiensi,” sebutnya. Dia sendiri sudah meminta kepada BPD Kalbar atau Bank Kalbar Balai Karangan untuk rutin menggelar kas keliling di desa tersebut.

Hari itu, Bank Indonesia Kalbar juga menggelar kas keliling dengan membawa Rupiah tahun emisi 2016. Tak sampai satu jam, uang Rp30 juta ludes ditukarkan masyarakat. “Baru kali ini lihat uang baru. Tahunya hanya dari televisi saja. Semoga kegiatan seperti ini sering-sering diadakan,” kata seorang warga. (bersambung)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

6 + 12 =