Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Narkotika Asal Malaysia Serbu Indonesia

4

JAKARTA – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) harus lebih masif serta terstruktur dalam memerangi peredaran narkotika. Sebab, bandar dari luar negeri kian agresif membidik pasar Indonesia. Meski sepanjang 2017 telah sebelas anggota komplotan penyelundupan narkotika lintas negara ditembak mati, intensitas pengiriman narkotika dari luar negeri tetap tinggi. 

Sebelas Anggota Komplotan Asing Tewas Didor Selama 2017

JAKARTA – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) harus lebih masif serta terstruktur dalam memerangi peredaran narkotika. Sebab, bandar dari luar negeri kian agresif membidik pasar Indonesia. Meski sepanjang 2017 telah sebelas anggota komplotan penyelundupan narkotika lintas negara ditembak mati, intensitas pengiriman narkotika dari luar negeri tetap tinggi. 

Senin (27/3), Polri dan BNN merilis tiga anggota jaringan narkotika dari Malaysia telah ditembak mati. Dua orang didor dalam operasi yang dilakukan polisi. Satu orang lagi ditembak dalam penindakan BNN. 

Dittipid Narkoba Polri menewaskan dua bandar dalam penggerebekan di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Maret lalu. Barang bukti yang berhasil diamankan berupa 6,5 kg sabu-sabu; 190 ribu butir ekstasi; dan 50 ribu butir happy five. Semua barang haram itu berasal dari Malaysia. 

Sementara itu, BNN juga merilis pengungkapan bandar yang menyelundupkan 11 kg sabu-sabu dari Malaysia melalui Pontianak. Seorang bandar tewas tertembak dalam penangkapan pada 20 Maret lalu. Ketika bandar itu berupaya melarikan diri. 

Dirtipid Narkoba Bareskrim Brigjen Eko Daniyanto mengungkapkan, penindakan terhadap dua bandar di Medan berawal dari penggerebekan jaringan mereka di Jakarta. Awalnya, yang ditangkap adalah Agus Salim. Saat itu dia menyerahkan sabu-sabu seberat 1 kg kepada Nanang Taufik. ”Dari penangkapan ini, ternyata Agus mendapatkan narkotika dari Munasir, tersangka lain,” ungkapnya. 

Untuk mengejar Munasir, digerebeklah sejumlah tempat di Pasar Rebo, Jakarta Timur, dan Ruko Sedayu Square, Jakarta Barat. Dari dua tempat itu ditemukan 5,5 kg sabu-sabu di dalam mesin cuci; 190 ribu butir ekstasi; dan 50 ribu butir happy five. ”Munasir akhirnya ditangkap di Jalan Alternatif Cibubur,” paparnya.

Munasir yang merupakan bandar di Jakarta ternyata merupakan suruhan Fidel Husni (FH) yang berada di Medan. Beberapa waktu lalu FH ditangkap di rumahnya di Pondok Surya 2, Medan. ”Saat ditangkap itu ternyata didapatkan sebuah AK-47; satu pucuk revolver; 250 bungkus amunisi 5,6 mm; dan dua bungkus happy five,” ungkap Eko.

Dari pengembangan keterangan FH, ditangkap pula Azhari yang merupakan koordinator transporter distribusi narkotika dari Penang, Malaysia, ke Indonesia. ”FH dan Azhari ini diduga masih menyimpan senjata dan narkotika,” terangnya. 

Saat diminta untuk menunjukkan lokasi, keduanya malah melawan. Keduanya akhirnya tewas karena ditembak petugas. ”Penindakan tegas dilakukan karena mengancam nyawa petugas,” kata Eko. 

Berdasar pendalaman polisi, diketahui bahwa FH ternyata mantan penegak hukum yang berdinas di Aceh. Beberapa tahun lalu FH ditangkap karena kedapatan membawa 2 kg narkotika. ”Dia dihukum enam tahun, tapi menjalani hukuman hanya beberapa tahun,” jelasnya.

Setelah menjalani hukuman, ternyata FH tetap menjalankan bisnis haramnya. Bahkan, dia menggunakan senjata AK-47 dan revolver untuk berjaga-jaga. ”Karena itu, kami sudah instruksikan ke semua petugas di Indonesia untuk waspada karena bandar sudah menggunakan senjata api,” paparnya.

Dari mana senjata tersebut? Eko menjelaskan, sangat mungkin AK-47 tersebut merupakan sisa konflik Aceh. ”Tapi, bagaimana FH bisa mendapatkannya, masih belum diketahui,” ucapnya.

Pun demikian asal revolver, saat ini sedang didalami. Mungkin senjata organik itu berasal dari kepolisian.

Untuk kasus narkotika Malaysia yang diungkap BNN, Kepala BNN Komjen Budi Waseso menjelaskan bahwa penangkapan berawal dari laporan yang diberikan oleh informan BNN. Informasi itu menyebutkan pergerakan pelaku yang berinisial GUS, 31, dan WAH, 21. Keduanya akan melakukan transaksi sabu-sabu di Jalan Adi Sucipto, Simpang Tiga Soedarso, Sungai Raya, Pontianak. Sabu tersebut dipastikan berasal dari Malaysia.

”Pelaku menggunakan mobil Toyota Avanza silver KB 1645 K. Pengiriman dilakukan oleh dua orang,” ujar Buwas –panggilan akrab Budi Waseso.

Berbekal informasi tersebut, pihaknya bertolak ke lokasi itu. Anggota disebar ke beberapa titik. Petugas menyamar sebagai warga serta pengguna jalan. ”Informasi yang diberikan cukup akurat,” ujarnya.

Pergerakan pelaku berhasil direkam. Namun, penangkapan tidak langsung dilakukan. BNN memutuskan untuk membuntuti pelaku. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui jaringan narkoba internasional itu. ”Kami lihat siapa saja yang terlibat, tidak langsung tangkap,” jelasnya.

Saat berada di depan terminal oplet, kedua pelaku bertemu dengan pengedar yang berinisial A, 50. Mereka lantas bertukar kendaraan. Saat itulah petugas melakukan penyergapan. ”Para pelaku ditangkap dan pemeriksaan kendaraan dilakukan,” tuturnya.

Dari pemeriksaan itu, ditemukan 11 kg sabu-sabu. Barang haram tersebut disembunyikan di balik pintu mobil untuk mengelabui petugas. ”Ketiganya lalu diamankan,” jelasnya. 

Saat para pelaku dibawa, bandar A berusaha melarikan diri dan melawan. Petugas terpaksa melakukan tindakan tegas. Peluru menembus hingga punggung bandar tersebut. Seketika pria 50 tahun tersebut jatuh terkapar. 

”Kami sempat berusaha mengevakuasi A ke rumah sakit terdekat. Namun, akibat banyak pendarahan, nyawa A tidak bisa diselamatkan. A pun tewas di perjalanan,” katanya. 

Berdasar hasil pemeriksaan, bisnis haram tersebut telah dilakukan selama tiga bulan. Sudah tiga kali transaksi dilakukan. Dalam sekali transaksi, mereka mendapatkan upah Rp 5 juta. ”Upah tersebut diberikan oleh pelaku berinisial A,” jelasnya. 

Buwas menjelaskan, kondisi Indonesia saat ini darurat narkoba. Puluhan jaringan internasional telah bebas menjalankan bisnis haramnya itu ke Indonesia. Kebanyakan narkoba berasal dari Malaysia. Sebab, secara geografis, Malaysia sangat dekat dengan Indonesia. Pengiriman bisa melalui jalur mana saja. Darat, laut, maupun udara.

Kebanyakan kurir narkoba direkrut dari penduduk daerah pelosok. Modus perekrutan pun beragam. Kebanyakan kurir terlebih dahulu dicekoki narkoba. Tujuannya, mereka ketergantungan narkoba. Ketika sudah mengalami ketergantungan, mereka akan menuruti perintah sang bandar.

”Dia sudah ketergantungan dan tidak mempunyai uang untuk beli narkoba. Jadi, nggak ada pilihan lain, bekerja jadi kurir. Hanya demi bisa pakai narkoba gratis. Jadi, jangan heran kalau upah kurir di Indonesia sangat murah,” kata polisi dengan tiga bintang di pundak itu. (idr/ian/c11/ang)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

4 × three =