Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Mengunjungi Kuching Pasca Mangkatnya Datuk Adenan Satem

17

Beberapa waktu lalu Pontianak Post mendapat undangan dari Sarawak Tourism Board (STB) untuk mengikuti even Kuching Heritage Race 2017 di Kota Kuching, Sarawak, Malaysia. Tur sejarah yang diisi dengan permainan, hiburan dan edukasi ini rencananya digelar, Sabtu (14/1).  

Mengenal Sejarah, Menyusuri Kota dengan Berjalan Kaki

Kota Kuching memiliki sejarah yang sangat panjang dan unik. Beragam budaya dari berbagai etnis serta agama yang ada, masih kental dipertahankan, sebagian pula berakulturasi. Sangat menarik untuk diketahui.

IDIL AQSA AKBARY, Kuching 

Beberapa waktu lalu Pontianak Post mendapat undangan dari Sarawak Tourism Board (STB) untuk mengikuti even Kuching Heritage Race 2017 di Kota Kuching, Sarawak, Malaysia. Tur sejarah yang diisi dengan permainan, hiburan dan edukasi ini rencananya digelar, Sabtu (14/1).  

Sesuai jadwal, kami harus datang ke Kuching sejak, Kamis (12/1). Sebab dua hari sebelumnya akan diisi dengan tur ke beberapa tempat wisata di luar Kota Kuching. Akan tetapi sehari sebelumnya datang berita duka, Ketua Menteri Sarawak, Federasi Malaysia, Datuk Adenan Satem (72) dikabarkan meninggal dunia akibat serangan jantung, Rabu (11/1).

Even tersebut akhirnya harus diundur oleh pihak panitia hingga Februari mendatang. Karena selama seminggu, seluruh warga Malaysia berkabung, pemerintahan sempat diliburkan satu hari pada, Kamis (12/1). Seluruh instansi dan gedung pemerintahan mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati mangkatnya Datuk Adenan Satem. Ia memang dikenal sebagai pemimpin yang sangat dicintai oleh rakyat. 

Namun, bukan berarti seluruh agenda dibatalkan, melainkan diubah.  Masih terkait tema yang sama, Sabtu (14/1) hanya diisi dengan wisata sejarah yang lebih sederhana. Kegiatan betul-betul diisi dengan edukasi tanpa permainan dan hiburan. Pesertanya pun hanya lima orang, termasuk penulis, seorang fotografer dan satu jurnalis dari Singapura.

Kami berkesempatan mengenal sejarah Kota Kuching selama kurang lebih empat jam dengan berjalan kaki. STB telah menyiapkan seorang tour guide berpengalaman untuk mengajak kami berjalan-jalan. Seorang pria paruh baya bernama Nazri Abdullah (55), dialah yang sekaligus memimpin seluruh perjalanan hari itu. 

Tur dimulai sekitar pukul 09.00 pagi, waktu setempat. Di jemput dari hotel yang tak jauh dari kawasan waterfront (tepi Sungai Sarawak pusat kota), tujuan pertama kami adalah mengunjungi Tua Pek Kong. Salah satu tempat ibadah etnis tionghoa yang juga masih berada di kawasan pusat kota, Jalan Tunku Abdul Rahman. Tur berjalan kaki akhirnya dimulai dari sana.

Di sana, Nazri sempat menjelaskan berbagai hal tentang sejarah masuknya bangsa tiongkok ke Kuching. Kuil pertama ini dibangun dengan latar belakang perbukitan, berdasarkan feng shui yang masih menjadi pedoman hidup kaum Tionghoa. Yakni menghadap sungai dan letaknya lebih tinggi dari bangunan di sekitarnya, di atas bukit. 

Tak jauh di depannya, kini ada museum sejarah cina. Karena masih terlalu pagi, kala itu musem belum dibuka. Menurut Nazri, bangunan museum itu dulunya, merupakan markas Kamar Dagang China yang beroperasi di Sarawak. Dibangun sejak 1904. Di sana bisa dikatakan ensiklopedia, sangat lengkap terkait segala hal kehidupan etnis Tionghoa di Sarawak. 

Kuching memang dikenal sebagai kota multi etnis dan budaya. Sedikit banyak memang memiliki kesmaan dengan beberapa daerah kerajaan di Kalbar. Sejarahnya sangat panjang, mulai dari kesultanan Brunei, kepala suku pribumi, pedagang cina dan india hingga Rajah Putih, James Brooke (Gubernur Sarawak Pertama). Selain juga pernah menjadi wilayah jajahan Jepang, pembebasan oleh Australia serta sebagai bagian dari koloni Inggris.

Karena itu jika benar-benar ingin mengetahui secara keseluruhan Kota Kuching dan umumnya Sarawak butuh waktu lebih lama. “Kalau ingin tahu semua, banyak tempat harus dikunjung, waktunya bisa mencapai 5-6 jam, tapi kali ini tidak semua, mengingat waktu kita terbatas, singkat saja cukup 3-4 jam,” terang pria yang sudah mulai menjadi tour guide sejak usia 20 tahun itu. 

Perjalanan kami pun berlanjut, menyusuri pertokoan yang dikenal dengan sebutan main bazaar. Di sana dijual berbagai souvenir, kerajinan tangan serta oleh-oleh khas Sarawak. Semua gedungnya merupakan bangunan tua. Saat sedang asik berjalan dan melihat-lihat, langkah kaki Nazri tiba-tiba berhenti di depan sebuah toko. Ia berdiri persis di sebelah salah satu tiang bangunan yang masih berupa kayu belian (ulin).

Ayah tiga anak yang sudah hampir 30 tahun menjadi tour guide ini mengenang, dulunya bangunan tua tersebut merupakan sebuah hotel. Waktu masih kanak-kanak, jalan yang berada persis di sebelah bangunan itu merupakan jalurnya melintas berjalan kaki menuju sekolah. 

“Mungkin banyak orang tidak tahu sejarah bangunan ini, termasuk para tour guide yang baru. Karena ini yang membuat saya berbeda, ketika tour guide sekarang mengandalkan buku, saya cukup pengalaman dan ingatan, jadi banyak hal yang mungkin orang tidak tahu, saya tahu,” terangnya. 

Dari sana, kami lalu melanjutkan ke kawasan chinatown, yang jalannya paralel dengan jalan main bazaar. Suasananya sangat khas tionghoa, jalanannya tidak terlalu lebar sehingga arus kendaraan dibuat satu jalur. Nazri menjelaskan dulunya di jalan tersebut tiap bloknya merupakan toko-toko dengan segmen tertentu. Seperti salah satunya dinamai Carpenter Street yang artinya sepanjang jalan di penuhi dengan tukang kayu. 

Tak jauh dari Chinatown, kami beralih ke kawasan Sarawak Tourism Complex. Gedung yang berada tepat di depan Square Tower ini merupakan saksi sejarah pemerintahan Sarawak. Kondisi bangunannya masih sangat terawat walau usianya sudah lebih dari satu abad.

Di halaman depan bangunan yang dulunya merupakan gedung pengadilan, terdapat tugu Rajah Sarawak. Di tugu ini terdapat relief Rajah Sarawak kedua Charles Brooke, serta tulisan dalam empat bahasa yang menggambarkan empat etnis utama di sana. 

Selain Chinatown, tak jauh dari Sarawak Tourism Complex, juga dapat ditemukan kawasan India Street atau yang biasa disebut dengan little india. Di sana dijual berbagai macam barang khas india, mulai dari pakaian hingga kuliner. 

Memang butuh waktu yang tidak singkat agar bisa mengunjungi semua tempat penting dan bersejarah di sana. Usai menyantap kuliner khas dan makan siang, perjalanan kami ditutup dengan mengunjungi Museum Sarawak. 

Di bangunan tua bergaya arsitektur Eropa yang didirikan pada 1891 itu, terdapat banyak artefak bersejarah. Di lantai pertama dapat ditemukan banyak replika fauna khas Sarawak. Kemudian di lantai dua kita dapat melihat berbagai hal yang berhubungan dengan etnis. Seperti rumah panjang Suku Dayak, senjata tradisonal dan lain sebagainya. (*) 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

5 × 3 =