Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Melawan Ancaman Rabies, Kalbar Tertinggi Kedua di Indonesia

33

PONTIANAK – Sepanjang 2016, rabies menjadi ancaman yang menakutkan. Betapa tidak, kasus rabies meningkat tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada 2014, rabies hanya terjadi di dua kabupaten, yakni Ketapang dan Melawi. Namun di tahun ini, daerah yang terjangkit rabies menjadi delapan kabupaten. Yakni, Sekadau, Kapuas Hulu, Sanggau, Sintang, Landak, Bengkayang, Ketapang, dan Melawi.  

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr M Subuh menyebutkan, Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan titik persebaran rabies tertinggi kedua setelah Bali. 

Tercatat ada 921 korban gigitan rabies yang tersebar di delapan kabupaten. Dari jumlah itu 704 korban gigitan sudah diberikan vaksin anti rabies. Peningkatan kasus ini juga membuat status bebas rabies di Kalbar gugur. Kementerian Kesehatan menetapkan status Kejadian Luar Biasa untuk kasus rabies. 

Peneliti kasus rabies dari Bali Prof drh IGNK Mahardi Phd menyebutkan, kata kunci dari penanganan rabies ialah dengan melibatkan masyarakat. Menurut Mahardika seberapa besar uang yang dikucurkan pun akan sia-sia jika masyarakat tidak ikut terlibat. 

Menurutnya lagi keterlibatan masyarakat itu dengan memastikan anjing peliharaannya sudah divaksin. Dengan divaksinnya anjing, lanjut dia, maka masyarakat bisa aman melakukan aktivitas bersama hewan peliharaannya itu. Apakah itu anjing diperuntukkan untuk berburu, konsumsi adat maupun untuk transportasi. “Tanpa itu berapa pun uang akan habis. Rabies tetap ada. Orang meninggal tetap ada,” katanya. 

Dia menambahkan, rabies adalah penyakit yang mematikan. Akan tetapi dapat dicegah 100 persen dengan melibatkan masyarakat. Karena itu dimana pun kasus ini merebak cara penanggulangannya tetap sama. “Cara penanggulangannya sama. Bagaimana memastikan semua anjing sudah divaksin,” kata dia.

Kendati demikian, dia mengakui setiap wilayah memiliki keunikan. Sepert Kalbar, anjing menjadi teman berburu masyarakat. Di beberapa wilayah lainnya, anjing juga menjadi teman nelayan saat mencari ikan di laut. “Ada beberapa alasan. Anjing bisa menjadi teman. Anjing bisa memberikan tanda jika ada badai. Bisa juga menjadi sumber makanan ketika nelayan tidak mendapatkan. Tetapi dengan segala risiko itu, kuncinya tetap melibatkan semua masyarakat,” terangnya. 

Pemerintah pusat pun menunjukkan komitmennya untuk mengatasi serangan rabies yang melanda delapan kabupaten di Kalbar. Komitmen itu dengan memberikan bantuan berupa vaksin rabies untuk hewan sebanyak 25.000 dosis, kulkas 10 unit, coolbox 10 unit dan Vaksin Anti Rabies 82 vial untuk tenaga fasilitator.

Bantuan itu diserahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek kepada Gubernur Kalbar Cornelis saat berkunjung ke provinsi ini di peringatan Hari Rabies Sedunia di Pontianak, Rabu (28/9). Gubernur Kalimantan Barat Cornelis mengaku tingginya angka kasus rabies yang menimpa delapan kabupaten membuatnya khawatir. Apalagi pada bulan sebelumnya, Kalimantan Barat sempat mengalami kekurangan vaksin untuk manusia. 

Untuk menekannya, dia meminta semua stakeholder gencar menyosialisasikan bahaya rabies. Sebab, dia menilai bahaya rabies bukan hanya hari ini, tetapi juga masa depan generasi muda. 

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mencanangkan Kalimantan Barat bebas rabies pada 2020 menilik provinsi tersebut ditetapkan sebagai daerah dengan kejadian luar biasa (KLB) rabies. “Perlu ada perhatian serius untuk kasus ini,” kata Moeloek. 

Hanya saja dia tak menampik tantangan terberat yang dihadapi yakni wilayah Kalbar yang sangat luas. Belum lagi berbatasan dengan Malaysia. Ancamannya pun tidak hanya rabies, tapi juga penyakit menular lainya seperti virus Zika. “Ini gambaran tantangan ancaman kesehatan terbilang tinggi di Kalbar,” pungkasnya. (mse)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

3 × 3 =