Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Lari karena Konfrontasi, Dayak Iban Sungai Besar Masuk Islam

11

Ekspedisi Menyusuri Jejak Islam di Kalbar

Desa Sungai Besar, Kecamatan Bunut Hulu merupakan desa atau kampung yang sebagian penduduknya bersuku Dayak Iban yang kemudian memeluk Islam. Bagaimana sejarah desa ini terbentuk?

ARIEF NUGROHO, Bunut Hulu

SEPINTAS, Desa Sungai Besar tidak ada bedanya dengan desa-desa lain di Kabupaten Kapuas Hulu. Bahkan secara kasat mata, tidak ada penanda khusus di kampung itu.

Namun siapa sangka, desa itu memiliki sejarah atau cerita unik. Di mana desa ini dihuni oleh masyarakat Dayak Iban yang kemudian memeluk agam Islam.

Menurut cerita, Desa Sungai Besar pada mulanya adalah sebuah perkampungan kecil yang disebut bangsal (bahasa daerah setempat). Pada 1965, kampung yang hanya dihuni beberapa kepala keluarga ini pun didatangi sekelompok orang dari Suku Dayak Iban dari wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia (Badau dan Puring Kencana).

Mereka lari dari kampung asalnya akibat dampak dari konfrontasi Indonesia-Malaysia kala itu. “Mereka datang sekitar 40 kepala keluarga,” ujar Idi Mustafa, tokoh masyarakat setempat saat ditemui Pontianak Post di kediamannya.

Letusan mortir dan suara tembakan membuat mereka memilih untuk meninggalkan rumah Betang mereka. Mengungsi, mencari tempat baru untuk melanjutkan hidup. Mereka sempat akan bermukim dan berladang di beberapa tempat, seperti Tebaung, Sungai Semangut dan Mentebah. Namun sayangnya, tidak diberi izin. Akhirnya, mereka pun pergi ke pedalaman, yakni di Sungai Buah (cikal bakal Desa Sungai Besar). Di sini, mereka pun diterima,.

“Mereka sempat ditolak di beberapa desa. Namun pada akhirnya mereka diterima di sini, yak arena waktu itu, di sini hanya dihuni 10 KK,” lanjutnya.

Di kampung itu, masyarakat Dayak Iban tersebut dipersilahkan untuk membangun Rumah Betang, sebagai tempat tinggal. Mereka juga diperbolehkan untuk bercocok tanam, karena ketersediaan lahan masih banyak.

Akhirnya, masyarakat setempat dan masyarakat Iban ini pun bekerja sama dalam bidang bercocok tanam. Mereka lalu membaur dengan masyarakat setempat yang mayoritas beragama Islam. Masyarakat Dayak Iban tersebut lalu memeluk Islam.

Pada 1968, konfrontasi telah usai. Satu persatu masyarakat Iban pun kembali ke kampungnya di wilayah perbatasan. Namun tidak sedikit yang masih tinggal di kampung tersebut untuk melanjutkan hidup. “Hingga beberapa tokoh dari mereka meninggal dunia dan dimakamkan di sini. Mereka adalah Apai Bar yang nama muslimnya Akbar dan beberapa tokoh lainnya,” jelasnya.

Penduduk yang bermukim di desa itu pun terus bertambah. Pada akhirnya, masyarakat pun sepakat untuk membangun masjid. Karena pada mulanya di desa itu tidak tersedia sarana ibadah. “Kami pun bermusyawarah untuk membangun masjid. Tentunya dengan cara gotong royong. Masjid itu diberi nama Masjid At Taqwa,” bebernya.

Kehidupan masyarakat Iban yang sebelumnya hidup secara komunal pun berubah. Satu per satu mereka mendiami rumah secara individual. Rumah betang berlahan-lahan mulai ditinggalkan.

“Sekarang bekasnya sudah tidak ada lagi. Lahan yang dulu dipakai untuk membangun rumah betang, sekarang sudah menjadi tempat pemakaman umum,” katanya.

Desa Sungai Besar sendiri berada di Kecamatan Bunut Hulu, atau sekitar dua jam sebelum memasuki Kota Putussibau, ibukota Kabupaten Kapuas Hulu. Kini lebih dari 200 Kepala Keluarga mendiami desa itu. (*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

two + one =