Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Kalbar Darurat Rabies, Korban Tewas Capai 24 Jiwa

38

PONTIANAK—Korban meninggal dunia akibat gigitan rabies di Kalimantan Barat bertambah dua orang. Jumlah ini menambah daftar panjang para korban sejak tahun 2014 lalu. Tercatat jumlah korban sudah 24 orang.

Kedua korban di antaranya Satrosto berusia 23 tahun mahasiswa semester VII di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Pontianak. Dia merupakan warga Desa Tempunak, Kabupaten Sintang.

Korban mendapat gigitan ketika pulang ke kampung saat liburan kuliah. Minimnya informasi membuat pihak keluarga tidak melaporkan kasus ini ke dinas terkait.

Gigitan anjing itu membuat luka di telapak tangan kiri Satrosto.  Ia tak kuasa menahan virus rabies di tubuhnya setelah digigit 16 Juni 2016 lalu. Gejala gigitan muncul tepat tanggal 31 Juli.

Korban demam dan sakit kepala. Sedangkan tangan yang digigit terasa kesemutan. Oleh pihak keluarga, korban pun dilarikan ke Rumah Sakit St Antonius yang kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Mitra Medika. Pertolongan medis tidak membuahkan hasil dan korban akhirnya dinyatakan meninggal 5 Agustus 2016 kemarin sekitar pukul 17.00

Korban lainnya, Adi Bahtiar yang berusia 52 tahun, warga Desa Nanga Temadak Kecamatan Nanga Suhaid. Sama dengan sebelumnya, korban juga meninggal Jumat sore di Rumah Sakit Ade Mohammad Joen akibat gigitan rabies sejak pertengahan Juni 2016.

Korban mengalami gejala yang sama. Korban takut air, cahaya dan juga mengalami sesak napas.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat, Abdul Manaf menyatakan hingga saat ini belum ada obat penyembuh untuk korban gigitan rabies. Dipastikan ancaman akibat gigitan ini adalah kematian. Karena itu ia menyayangkan keluarga korban tidak sedari awal melaporkan kejadian ini.

Menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian vaksin anti rabies bagi korban gigitan. Satu orang mendapat empat dosis vaksin. Sebelum pemberian, luka bekas gigitan terlebih dahulu dibersihkan menggunakan sabun.

Kemudian baru diberikan vaksin di bagian kiri dan kanan tubuh. Menurutnya, vaksin pertama diberikan setelah menerima gigitan. Vaksin diberikan lagi pada minggu pertama dan ketiga setelah gigitan.

“Jadi jika sudah menunjukkan gejala ke syaraf maka sampai hari ini belum ada obatnya. Solusinya dengan pemberikan vaksin,” jelas Manaf siang kemarin.

Ia berpendapat, persoalan yang dihadapi saat ini ialah bagaimana melakukan vaksinasi terhadap anjing. Hal ini demi mengendalikan persebaran rabies yang kian meluas di delapan kabupaten di Kalbar.

Dia menyebutkan upaya untuk menekan persebaran ini juga mendapat dukungan dari Polda Kalbar.  Kapolda sudah memerintahkan jajarannya untuk membantu dalam mengeliminasi anjing.

“Tapi tidak semudah yang disebutkan. Anjing yang berkeliaran itu pasti ada yang memiliki dan yang tidak. Sekarang bagaimana bisa memantau  anjing yang tidak ada pemiliknya. Anjing yang lepas dan lari ke hutan,” kata dia.

Dukungan tersebut dinilai penting mengingat sumber daya manusia di Disnakeswan yang terbatas sehingga kesulitan menjangkau daerah-daerah terpencil. “Ketika akses jalan terbatas. Altenatifnya harus lewat sungai,” kata dia.

Selain polisi dan pemerintah provinsi, dia juga berharap dukungan dari masyarakat serta pemerintah kabupaten/kota.  Selama ini, hanya pemerintah provinsi yang terlihat serius dalam menangani masalah gigitan rabies ini.

“Selama ini yang gencar hanya pemerintah provinsi. Setiap kesempatan selalu menyampaikan bahayanya rabies. Kami berharap pemerintah kabupaten/kota bisa serius. Beli vaksin jika kurang. Kontrak tenaga dan berikan pelatihan penyuluhan,” kata dia.

Menurut Manaf, dari paparan tingkat pusat, kasus gigitan rabies di Kalbar tidak sebanyak di Bali, NTT, Sulawesi Utara dan Maluku. Namun, jika tidak ditangani sedari awal, kasus ini bisa semakin meluas.

Sementara itu, dari data pihaknya, gigitan rabies sudah tersebar di delapan kabupaten. Dari 120 kecamatan yang ada di delapan kabupaten itu, korban gigitan sudah tersebar di 56 kecamatan.

Jumlah gigitan 1.530 dan yang sudah divaksin anti-rabies (VAR) 1.356 orang. Tersisa 174 orang yang belum dapat VAR.  Sejak tahun 2014 sudah 24 orang meninggal dunia.

Jumlah anjing di Kalbar mencapai 85.970 dan yang sudah divaksin 43.300. Dari jumlah itu, masih ada 42.670 anjing yang belum divaksin. Saat ini Disnakeswan sudah mendistribusikan vaksin dan stocknya mencapai 22.900. Terdapat 95 tenaga dan 100 PPL telah dilatih sebagai penyuluh masalah rabies.

Kumpulkan Dinas se Kalbar

Disnakeswan Kalbar mengumpulkan dinas terkait untuk mengevaluasi persebaran gigitan anjing gila (rabies) yang sudah menyebar ke delapan kabupaten di provinsi ini. Delapan kabupaten itu yakni Sanggau, Sekadau, Bengkayang, Ketapang, Melawi, Sintang, Landak dan Kapuas Hulu.

“Rapat ini untuk mengetahui situasi di lapangan dan apa yang sudah dilakukan,” kata Abdul Manaf. Menurutnya, hal yang sangat mendesak untuk ditangani adalah kecepatan dan ketepatan waktu pemberian VAR bagi korban gigitan. Dan strategi mendasar mengendalikan rabies adalah vaksinasi anjing dengan target 100 persen.

“Sekadar teknis penyuntikan mungkin gampang. Sekarang pertanyannya siapa yang mengumpulkan anjingnya dan siapa yang akan melaksanakannya sampai ke dusun dan desa-desa?,” katanya.

Dengan sumber daya yang terbatas, dan wilayah yang luas, Manaf menilai langkah itu sulit dilakukan. Belum lagi keterbatasan yang sama untuk sumber daya manusia di masing-masing kabupaten/kota.  

Dicontohkannya Kabupaten Melawi yang luas wilayahnya seperti Jawa Barat. Seluruh kecamatan di Bumi Uranium itu sudah tertular gigitan rabies. Manaf menyebutkan, di  kabupaten tersebut hanya ada seorang dokter hewan dan empat tenaga teknis peternakan dan kesehatan hewan.

“Kondisi ini hampir sama di seluruh kabupaten/kota. Tidak ada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan di kabupaten/kota. Semua digabung dimana kepala bidangnya sebagian besar bukan berlatar belakang teknis peternakan dan kesehatan hewan,” ungkapnya.

Kendati demikian Manaf menilai itu menjadi tantangan yang harus dihadapi untuk mengatasi kasus rabies ini sebaik mungkin. Untuk itu dirinya berusaha meningkatkan peran serta masyarakat langsung maupun melalui tokoh-tokoh. (mse)
 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

seven + nine =