Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Jokowi Unjuk Kekuatan

18

NATUNA – Presiden Joko Widodo untuk pertama kalinya mengadakan kunjungan kerja ke Ranai, Kabupaten Natuna. Dalam kunjungan kerja ini, Jokowi memimpin rapat terbatas di atas KRI Imam Bonjol 383. 

Terkait  Penembakan Kapal Nelayan Cina

NATUNA – Presiden Joko Widodo untuk pertama kalinya mengadakan kunjungan kerja ke Ranai, Kabupaten Natuna. Dalam kunjungan kerja ini, Jokowi memimpin rapat terbatas di atas KRI Imam Bonjol 383. 

KRI tersebut adalah kapal perang yang pekan lalu menembak kapal nelayan Cina yang diduga mencuri ikan di perairan Natuna, wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Kunjungan di Natuna dilakukan menyusul protes pemerintah Cina pekan lalu atas penembakan kapal nelayan dan penangkapan sejumlah ABK-nya yang diduga mencuri ikan di Natuna. 

“Sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, Presiden ingin tunjukkan Natuna adalah bagian dari kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Rabu (22/06).

Kepulauan itu dipandang sebagai salah satu  beranda terdepan Indonesia dan kawasan strategis nasional. Wilayah Kepulauan Natuna menjadi strategis karena merupakan wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. 

“Wilayah ini juga merupakan wilayah laut Indonesia yang menjadi jalur utama pelayaran laut dunia terutama bagi kapal-kapal yang hendak menuju Hongkong, Jepang, dan Korea,” ujar anggota tim komunikasi Ari Dwipayana.

Menurutnya, pengembangan Natuna menjadi prioritas utama Presiden. Jokowi, kata dia, ingin mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Sebagai daerah kepulauan, pembangunan di sektor kelauatan, perikanan dan pariwisata bahari di Kabupaten Natuna diharapkan mampu memberikan manfaat  nyata bagi semuanya.

“Presiden mengadakan rapat terbatas di Kepulauan Natuna karena ingin melihat langsung kondisi di Kepulauan Natuna sehingga rencana pengembangan yang akan ditempuh menjadi lebih terarah, jelas dan sesuai dengan kondisi yang diharapkan,” imbuh Ari.

Turut mendampingi Presiden dalam kunjungan ke Kepulauan Natuna, Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri ESDM Sudirman Said.

Selain itu juga, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Protes Cina 

Sebelumnya, pemerintah Cina telah berkali-kali melakukan aksi dan menyampaikan protes atas penangkapan kapal nelayan dan anak buah kapalnya (ABK) karena dituduh menangkap ikan secara ilegal di perairan Natuna.

Insiden pertama, pada 19 Maret lalu, di mana proses penangkapan kapal nelayan Cina yang diduga menangkap ikan secara ilegal, ‘dihalang-halangi’ oleh kapal penjaga pantai Cina, dengan menabrak kapal ikan itu “agar rusak sehingga tak dapat ditarik.”

Selanjutnya, delapan ABK dan sebuah kapal asal Cina, ditangkap oleh TNI angkatan laut (AL) pada Jumat, 27 Mei, dengan alasan yang sama. Kementerian Luar Negeri Cina mengeluarkan protes terhadap penangkapan ini.

Peristiwa terbaru trjadi Jumat (17/06): TNI AL mengamankan sebuah kapal berbendera Cina dan tujuh ABK-nya karena disebut mencuri ikan di perairan Natuna. Protes sama dikeluarkan Kemenlu Cina, yang kali ini diikuti klaim bahwa TNI AL telah melukai salah satu ABK. Klaim itu telah dibantah TNI. (flo/jpnn/bbc)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

17 − 10 =