Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Edi Rusdi Kamtono Terpopuler

Edi Rusdi Kamtono Terpopuler

996

Terdepan Online. PONTIANAK –  Pusdiklat TOP Indonesia mengumumkan hasil survei independen, terhadap popularitas dan elektabilitas bakal calon Wali Kota Pontianak 2018-2023. Dari empat besar nama calon, Edi Rusdi Kamtono menduduki peringkat pertama. Namun popularitas dan elektabilitas tertinggi masih di pihak abstain.

Meski Populer, Figur Edi Belum Kuat 

PONTIANAK –  Pusdiklat TOP Indonesia mengumumkan hasil survei independen, terhadap popularitas dan elektabilitas bakal calon Wali Kota Pontianak 2018-2023. Dari empat besar nama calon, Edi Rusdi Kamtono menduduki peringkat pertama. Namun popularitas dan elektabilitas tertinggi masih di pihak abstain.

Direktur Pusdiklat TOP Indonesia, Nur Iskandar mengungkapkan, meski Pilkada baru akan dilaksankan pada 2018 mendatang,  saat ini masyarakat harus mulai menentukan, siapa yang dikehendaki untuk tampil memimpin Kota Pontianak pasca Wali Kota Sutarmidji.

Minimal bisa melanjutkan keberhasilan dan prestasi yang telah diraih. Bahkan harapannya melebihi apa yang telah dicapai Sutarmidji selama kepemimpinannya, dalam dua periode terakhir.

“Pertanyaan siapa pemimpin yang akan datang itu perlu dibongkar, karena merupakan hal yang ilmiah dan bisa dijawab,” katanya saat diskusi “rountable” dengan materi Survei Calon Wali Kota Pontianak 2018-2023 di Kantor Pusdiklat TOP Indonesia, Jalan Purnama Agung VII, Minggu (30/10).

Sebagai incumbent posisi Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dinilai menguntungkan. Edi juga dianggap cukup berpengalaman dan memiliki pengaruh dalam perkembangan kota ini selama lima tahun terkahir. Terbukti Edi menduduki peringkat pertama dalam survei.

Dari 625 orang responden, yang diambil secara multi stage random sampling, Edi memiliki tingkat popularitas 50 persen atau 312,5 pemilih, lalu tingkat elektabilitas 31,2 persen atau 195 pemilih. Disusul peringkat kedua ada nama Syarif Abdullah Alkadrie yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPR RI Dapil Kalbar. Dengan tingkat popularitas 25 persen atau 156,25 pemilih dan tingkat elektabilitas 24,2 persen atau 151,25 pemilih.

Selanjutnya Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Mulyadi menduduki peringkat ketiga. Dengan tingkat popularitas 5 persen atau 31,25 pemilih dan tingkat elektabilitas 4,8 persen atau 30 pemilih. Lalu peringkat keempat, ada nama Mantan Wakil Wali Kota Pontianak 2008-2013, Paryadi. Dengan tingkat popularitas 4 persen atau 25 pemilih dan tingkat elektabilitas 3,2 persen atau 20 pemilih.

Menurut Nur, nama Edi Rusdi Kamtono memang cukup populer. Artinya sudah banyak orang yang mengenalnya. Namun ketenaran tersebut belum menjamin ia akan dipilih oleh orang yang mengenalnya itu. Terbukti tingkat elektabilitasnya hanya 31,2 persen. “Artinya harus ditelusuri,  mengapa Edi populer tapi elektabilitasnya masih rendah. Mungkin belum kelihatan figur kepemimpinan yang kuat dari Edi,” terangnya.

Sementara Syarif Abdullah Alkadrie, tiap orang yang mengenalnya secara umum juga mau memilihnya. Dapat dilihat dari perbandingan popularitas dan elektabilitasnya. Yakni 25 persen dan 24,2 persen. “Apa karena ia dekat dengan masyarakat dan tokoh kaliber nasional, mungkin itu ada korelasinya,” terang Nur. Hal serupa juga dapat dilihat dari hasil survei terhadap Mulyadi dan Paryadi.

Nur menjelaskan, empat nama ini merupakan hasil survei terkahir, yang dilakukan mulai akhir September sampai awal Oktober 2016. Survei ini tindak lanjut dari survei pertama, pada akhir 2015 berupa input nama-nama tokoh yang diusulkan responden. Hasilnya diperolehlah 30-an nama.

Pemilihan sample yang dilakukan secara bertingkat (multi stage random sampling). Berdasarkan pembagian wilayah, proporsional menurut DPT per-kelurahan di enam kecamatan, Kota Pontianak. Jumlah responden 625 orang dengan gallat atau error 4 persen. Survei dilakukan dengan wawancara atau tatap muka dengan panduan lembar kuisioner. “Para surveyor telah dilatih sebelum turun ke lapangan sesuai dengan metode penarikan sample,” paparnya.

Dari hasil tersebut, Nur memberikan kesimpulan bahwa popularitas dan elektabilitas tertinggi masih di pihak abstain (34 persen). Hal ini disebabkan jarak Pilwako masih cukup jauh. Atau responden menerima siapa pun yang terpilih asalkan mampu memimpin. Survei ini dikatakan akan berlanjut dengan memetakan calon-calon wakil wali kota. “Dengan adanya survei ini para calon harus mengembangkan arah politiknya. Data ini kami keluarkan untuk memancing agar mesin politik para calon segera hidup,” tandasnya.

Menanggapi hasil survei tersebut, Pengamat Politik Untan Jumadi memberikan beberapa catatan. Pertama meski rentang waktu Pilwako Kota Pontianak masih cukup panjang, tapi hasil surve bisa menjadi gambaran awal. “Dapat dilihat beberapa figur yang layak dan bakal maju,” katanya.

Kedua antara elektabilitas atau tingkat keterpilihan dan popularitas atau keterkenalan bagai dua sisi mata uang. Keduanya harus sama-sama kuat dan mendukung. “Meski seseorang itu pupuler tapi belum tentu layak dipilih, sebaliknya meskipun punya elektabilitas tinggi belum tentu dikenal banyak orang,” jelasnya.

Dari 30 figur tersebut, ia menilai Edi sudah tampak arahnya, menunjukkan diri bakal maju dalam Pilwako Pontianak 2018 mendatang. Meski perbandingan popularitas dan elektabilitas 50 persen banding 30 persen figur ini dikatakan cukup kuat.  Didukung faktor sebagai incumbent, memimpin banyak organisasi dan kesempatan yang luas mewakili wali kota dalam berbagai agenda.

“Tapi waktu masih cukup panjang, secara umum para figur memang belum memiliki magnet politik yang signifikan atau kuat. Pertanyaannya kenapa saya tidak tahu, itu semua kembali ke figurnya masing-masing,” ucapnya.

Selain itu jurnalis senior yang juga akademisi, Yusriadi berpendapat  dari sisi metodologi tidak ada yang salah dari survei ini. Tapi sebenarnya untuk masyarakat yang majemuk seperti di Kota Pontianak, pemilihan titik responden sering kali tidak mewakili seluruh masyarakat. “Karena berdasarkan Pilwako yang lalu, ada kantong-kantong suara di daerah-daerah tertentu.” katanya.

Hal yang harus menjadi catatan, survei ini berusaha mengajak semua pihak untuk mulai memikirkan nasib Kota Pontianak ke depan. Semua harus meletakkan pilihan dari sisi kualitas kepemimpinan. “Jika masyarakat masih melihat secara etnis dan agama, bukan kualitasnya tentu tidak akan membuat kota ini maju,” ucapnya.

Harapannya harus ada tokoh yang bisa mengimbangi kepemimpinan Sutarmidji. Bahkan melebihi segala capaian dan kesuksesan selama ini. “Sepertinya sikap politik Sutarmidji juga tidak menampakkan siapa penggantinya. Ia tidak punya putra mahkota, belakangan pernah disebutkan ingin ada tokoh muda  dan tokoh wanita, tapi sampai sekarang belum juga nampak,” tutup Yusriadi. (bar)

sumber : www.pontianakpost.co.id

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

2 × 1 =