Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Demo Tuntut Air Bersih

17

SUKADANA- Puluhan warga menggelar aksi menuntut Pemkab Kayong Utara, agar merampungkan permasalahan air bersih yang tidak kunjung selesai. Jika tidak ditanggapi, maka mereka akan kembali menggelar aksi serupa dengan jumlah yang lebih besar pada Sail Selat Karimata 15 Oktober mendatang yang rencananya dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

SUKADANA– Puluhan warga menggelar aksi menuntut Pemkab Kayong Utara, agar merampungkan permasalahan air bersih yang tidak kunjung selesai. Jika tidak ditanggapi, maka mereka akan kembali menggelar aksi serupa dengan jumlah yang lebih besar pada Sail Selat Karimata 15 Oktober mendatang yang rencananya dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

 

Demo tersebut dilakukan dari perwakilan dua desa diantaranya Desa Penjalaan dan Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Aksinya, para pendemo mendapatkan pengawalan ketat oleh pihak kepolisian dan Sat Pol PP agar dapat mencegah jika terjadi hal-hal anarkis di lapangan. Aksi tersebut, diawali dari kantor DPRD, dan dilanjuti ke kantor Bupati Kabupaten, Kayong Utara.

Ketika tiba di kantor DPRD masa sempat ada yang melontarkan kekecewaannya juga terhadap kinerja Wakil Rakyat. Namun, mengenai hal ini puluhan warga tersebut sangat berharap, wakil rakyat dapat memperjuangkan apa yang telah didampakan masyarakat yang sudah bertahun-tahun. Yakni, terkait air bersih yang belum juga dapat terselesaikan.

Mengenai hal ini, penanggungjawab aksi demo, Sartono mengatakan pemerintah daerah Kabupaten Kayong Utara tidak serius menyelesaikan permasalahan air bersih. Bahkan, sambung dia beberapa tahun lalu masa pemilihan Bupati dan Wakil Bupati, Bupati Kayong Utara Hildi Hamid, dan Wakil Bupati Idrus juga menjanjikan air bersih ini akan segera terealisasi. Namun yang ada, hingga saat ini air bersih tidak juga dirasakan oleh masyarakat. Sementara itu, mengenai permasalahan ini dapat segera teratasi sebelum masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati usai.

 “Mana janji air bersih ini juga telah disampaikan. Baik itu Bupati atau pun wakilnya terkait janji politik beliau. Kita ada rekaman videonya, kita ada bukti riil, kita menuntut itu, karena kita disini bukan ingin menjatuhkan pemerintah daerah, terutama Bupati, kita ingin menuntut janji-janji beliau. Saya takutnya selesai akhir jabatan mereka mereka mempunyai catatan merah,” cetus Sartono, usai berdialog bersama Wakil Bupati Idrus di ruang kerjanya, Rabu (31/8).

Dirinya yang mewakili masyarakat yang melakukan aksi demo menyatakan tidak semata-mata menyalahkan pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati kayong Utara sebagai Kepala Daerah, terkait permasalahan air bersih. Namun disebabkan perencanaan yang tidak tepat sehingga banyak pembangunan tempat air, atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang tidak dapat dimanfaatkan. Bahkan sekarang terbengkalai dan mengalami kerusakan, padahal pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Rantau Panjang tersebut menggunakan biaya yang tidak sedikit.

“Kita bukan tidak mengapresiasi pemerintah daerah terkait air bersih, kalau saya pikir pemerintah daerah melaksanakan  visi misinya, namun terkendala teknis di lapangan, perencanaan dan sebagainya. Kita lihat IPA di TR8, bangunannya seperti apa, itu sudah hancur, pipa yang ada saya cek kemarin ada yang terbakar, dan ada anggaran realisasi minyak untuk mengaliri IPA tersebut, tapi bukti ril itu tidak ada sama sekali. Dan katanya disana ada penjaga, kita cek disana, itu memang ada bentuk orang, seperti orang tidur di dalam, seolaha-olah penjaga, pas kita cek itu hanya bantal dan kasur,  itu menipu,” katanya.

Dirinya mengharapkan pemerintah daerah Kabupaten Kayong Utara dapat segera mencarikan solusi, karena menurutnya dampak dari krisis air ini sangat membebankan masyarakat. Sebab untuk membeli satu gentong air bersih saja harus mengeluarkan uang Rp100 ribu.

“Kita minta dalam waktu dekat, dua atau tiga bulan, pemerintah  bisa menyediakan air bersih terlebih dahulu, khususnya Kecamatan Simpang Hilir. Karena kita ketahui perekonomian masyarakat Simpang Hilir sangat kecil, kalau untuk warga yang memiliki ekonomi tinggi, kalau untuk membeli air satu gentong air seratus ribu saya pikir sah-sah saja, tapi bagaimana yang ekomoni lemah,” katanya.

Sementara itu wakil Bupati Idrus mengatakan, saat ini pemerintah daerah sedang berupaya mengaliri air bersih ke seluruh warga Kayong Utara, namun diakuinya hal tersebut dilakukan dengan bertahap, tidak dapat sekaligus.

Sambil menunggu penyaluran air bersih yang menggunakan dana APBN, baik dana APBN 2016, dan 2017, pemerintah daerah mengambil alternative lain, dengan cara membangun tempat penampungan air bersih di daerah rantau panjang, yang ditargetkan dalam minggu ini sudah dapat berfungsi.

 “Pada 2016 ini kita ada dana APBN dengan jumlah Rp36 miliar, mengambil air bersih dari Sungai Buluh, yang nantinya akan di alirkan sampai Kecamatan Simpang Hilir, tahun depan (2017) ini dana APBN juga sekitar 30 Miliar, khusus untuk Teluk Melano dan Teluk Batang, jadi ini termasuk jaringan kerumah-rumah. Untuk tahun ini kita juga sudah bangun bak penampungan di Rantau Panjang. Dua atau tiga hari kita pasang gardu, tinggal meteran yang belum masuk,” terang Idrus (dan)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

17 − five =