Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Berkunjung ke Pulau Penyengat Nikmati Indahnya Masjid Sultan Riau

19

Dua setelah hari raya Idulfitri, masyarakat memanfaatkan hari-hari libur untuk berwisata atau berkunjung ke rumah kerabatnya untuk bersilaturahmi. Di Tanah Melayu, Kepulauan Riau (Kepri) salah satu tujuan tempat wisata warga setempat yakni Pulau Penyengat, Tanjungpinang.

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang.

Pulau ini selama libur lebaran terlihat lebih riuh dan ramai. Para pengunjung dari daerah lain sengaja datang menumpangi sampan motor untuk berwisata ke Pulau Penyengat.

Tingginya minat wisatawan datang ke Pulau Penyengat karena adanya Masjid Sultan Riau, Pulau Penyenga sebagai daya tarik untuk berkunjung.

Masjid tua berusia satu abad dan berwarna kuning benar-benar menjadi salah satu daya pikat bagi wisatawan.

Alasannya, karena Masjid Sultan Riau yang dibangun pada tahun 1803 Masehi oleh Sultan Mahmud Syah itu merupakan bangunan pertama yang dikerjakan ketika menjadikan Pulau Penyengat sebagai ibu kota pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga.

Di pulau ini terdapat pula beragam kisah apik terhadap masjid yang dibangun dengan bahan dasar bangunannya dengan putih telur itu.

Selain itu posisinya juga terbilang strategis. Tepat berada di pintu masuk Pulau Penyengat. Tak ayal ini membuat banyak masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah bergantian berfoto dengan latar belakang Masjid Sultan Riau itu.

Kebetulan juga hari Jumat, bagi pengunjung laki-laki memanfaatkan Masjid Agung itu untuk menunaikan salat jumat.

Masjid pun tumpah ruah, karena jamaah banyak berasal dari wisatawan maupun warga sedang kebetulan bersilaturahmi di Pulau Penyengat.

“Saya memang sudah biasa salat Jumat di Penyengat,” aku Ruslan, warga Tanjungpinang yang berlibur ke Penyengat bersama keluarganya.

Menunaikan salat Jumat di pulau bertuah itu, kata dia, punya aksentuasi nuansa berbeda. “Ya beda aja sih. Payah nak jelaskan,” begitu karyawan swasta ini membahasakannya.

Bila Ruslan sekadar berkunjung, sementara jamaah lainnya mereka yang meramaikan Penyengat kemarin juga punya maksud lain. Mereka bermaksud hendak bersua dengan kerabat.

Nuansa Idulfitri masih terasa hangat. Sehingga masih banyak yang pergi bersilaturahmi untuk mempererat rasa kesaudaraan.

Herman, salah seorang pengunjung Pulau Penyengat yang sengaja memboyong anggota keluraganya menuturkan, sengaja datang ke Pulau Bertuah itu, karena banyak cerita menarik untuk dinikmati. Di antaranya mengunjungi Balai Adat.

“Kata orang kalau sudah ke Penyengat juga harus ke Balai Adat. Ini saya juga mau ke sana juga,” ungkapnya.

Balai Adat ini, selain menyimpan aksesori-aksesori adat Melayu sebagaimana fungsinya, ada juga semacam kursi mempelai ala Melayu.

Di sini pengunjung juga berebut kesempatan berfoto. Yang lebih spesial Jumat kemarin, di Balai Adat juga disajikan atraksi hiburan kesenian Melayu. Menariknya, dibawakan oleh talenta-talenta muda berbakat asli Penyengat.

“Ada kelompok musik Setaman dan grup joged Dangkon yang ikut menghibur pengunjung,” kata Adi Pranadipa, penghobi fotografi asal Tanjungpinang.

Jumat dan Lebaran membuat segalanya menggeliat. Tali silaturahim makin erat. Ekonomi menguat. Semacam inilah semestinya sebuah tata konsep pariwisata diwujudkan. “Pengunjung senang, penduduk pun girang,” pungkas Adi.(*/iil/JPG)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

19 + twelve =