Take a fresh look at your lifestyle.

-Iklan-

-Iklan-

Khatulistiwa Park salah satu pengembangan Potensi Wisata unggulan di Kalbar

Khatulistiwa Park salah satu pengembangan Potensi Wisata unggulan di Kalbar

59

“Saya melihat Sungai Kapuas adalah kekuatan Kota Pontianak untuk hal apapun, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati Sungai Kapuas, salah satunya dengan cara yang sederhana yaitu bersampan”. pungkas Edi Rusdi Kamtono yang kerap kita sapa Bang Edi.

Edi Rusdi Kamtono sedang bersampan di sungai kapuas

Sebenarnya banyak aktivitas lain yang menarik di pinggiran Kapuas. Pemkot sendiri berencana menjadikan Sungai Kapuas sebagai ‘halaman depan’ bagi bangunan-bangunan di tepiannya. Belakangan Pemerintah Pusat mengucurkan dana untuk membangun waterfront di berbagai titik di pinggiran Kapuas.
Untuk pemerataan pembangunan di Pontianak Utara Juga sedang dibangun Khatulistiwa Park, “Pengembangan Khatulistiwa Park tersebut dapat menjadikan Pontianak destinasi wisata unggulan di Kalbar. Karena di sini akan banyak sekali wahana permainan, dan objek pendukung lain,” katanya.

 

Nikmati Panorama dari Atas Kapal Bandong Sembari Menyantap Aneka Kuliner

Untuk masalah pariwisata, Kota Pontianak memang belum semaju kota-kota lain di Indonesia. Namun, berbagai potensi yang menjanjikan telah ada di sini, mulai dari keanekaragaman seni budaya, Sungai Kapuas, hingga kuliner. Jadwal penerbangan menuju kota khatulistiwa yang semakin bertambah juga membuat sektor pariwisata semakin menggeliat. Saat ini, objek yang menjadi andalan adalah wisata kapal bandong di Sungai Kapuas.

Aristono, Pontianak

 

MENUMPANG kapal bandong sudah menjadi agenda dalam setiap city tour Kota Pontianak. Dengan hanya membayar Rp10.000-15.000 per orang, penumpang sudah bisa menikmati pemandangan dari atas kapal. Salah satu dermaga favorit untuk naik kapal ini adalah Alun-Alun Kapuas lantaran dekat dengan pusat kota. Dari sini penumpang akan dibawa berlayar hingga melintasi bawah Jembatan Kapuas, lalu berputar di sekitar Kampung Banjar Serasan.

Kapal bandong kini berjumlah belasan unit. Masing-masing pemilik kapal berlomba untuk menghias kapalnya menjadi yang paling menarik. Tak heran bila malam hari, kapal-kapal ini menjadi yang paling meriah dibanding kapal lain yang melintas di Sungai Kapuas. Walaupun rutenya tidak terlalu jauh, pemandangan yang tersaji termasuk lengkap.

Para penumpang bisa melihat bangunan bersejarah Masjid Jami dan Istana Kadriah yang berdiri kokoh di pinggiran Sungai Kapuas. Selain itu, Tugu Khatulistiwa yang menjadi simbol kota juga terlihat jelas. Begitu pula dengan kemegahan arsitektur Jembatan Kapuas. Tak kalah menarik adalah aktivitas masyarakat di pinggiran yang sangat khas. Semua itu bisa dinikmati sembari menikmati aneka kuliner diiringi alunan musik di atas kapal.

Aktivitas lain di Sungai Kapuas yang bisa dicoba adalah bersepeda di sepanjang kampung pinggiran sungai terpanjang di Indonesia tersebut. Herfin Yulianto, salah seorang agen perjalanan wisata mengatakan paket ini banyak  diminati oleh para wisatawan luar negeri. Sudah beberapa kali dia membawa turis asing untuk paket wisata sederhana ini.

Lokasi utama mereka adalah pinggiran Sungai Kapuas yang menjadi ikon kota ini. Di sana mereka melihat kehidupan masyarakat, bangunan pinggir sungai, Keraton Kadriah hingga suasana Kampung Beting.

Herfin baru memulai jasa tur ini sejak beberapa tahun terakhir. “Saya melihat Sungai Kapuas adalah kekuatan Kota Pontianak untuk hal apapun, termasuk pariwisata. Tetapi paket-paket yang tersedia selama ini tidak banyak berubah. Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati Sungai Kapuas, salah satunya dengan bersepeda,” ucapnya.

Tur ini sebenarnya sangat sederhana. Para wisatawan diajak berkeliling dengan sepeda menghabiskan waktu kurang lebih empat jam di pinggiran Sungai Kapuas. “Idenya membuat para tamu kami senang dan menambah wawasan mereka tentang sosial budaya Pontianak,” imbuhnya.

Peserta tur akan mengayuh sepeda bersama menyusuri jalan sepanjang Sungai Kapuas yang unik, melewati jalan-jalan kecil dan berkelok, melewati pasar tua tepi sungai, melihat aktivitas kehidupan masyarakat lokal, dan menjumpai banyak angkutan sungai yang sibuk lalu lalang seharian.

Peserta akan melihat kapal besar, kapal bandong, kapal tongkang dan pendayung sampan. Para turis juga diajak menikmati nostalgia Pontianak tempo dulu saat berkunjung ke Keraton Kadriah, tempat cikal bakal berdirinya Kota Pontianak.

“Jika beruntung, peserta dapat bersalaman dan foto bareng dengan Sultan Pontianak. Ada pula kunjungan ke Masjid Jami, perkampungan unik masyarakat lokal melayu yang rumahnya di atas air, di Kampung Beting,” katanya.

Perjalanan lantas ditutup dengan makan siang di Pasar Tengah, menikmati lezatnya kuliner Melayu lokal berupa hidangan ikan asam pedas Pontianak. Selanjutnya, membeli cenderamata t-shirt BCI yang juga besutan Herfin, dimana karena 50 persen profit penjualan t-shirtnya digunakan oleh BCI untuk mendanai pelestarian, pendokumentasian dan promosi seni budaya Kalbar.

Sebenarnya banyak aktivitas lain yang menarik di pinggiran Kapuas. Pemkot sendiri berencana menjadikan Sungai Kapuas sebagai ‘halaman depan’ bagi bangunan-bangunan di tepiannya. Belakangan Pemerintah Pusat mengucurkan dana untuk membangun waterfront di berbagai titik di pinggiran Kapuas.

Selain itu, saat ini juga sedang dibangun Khatulistiwa Park di kawasan Tugu Khatulistiwa. Zulkifli dari Disporapar Pontianak mengatakan pembangunan wahana ini akan memakan waktu dua sampai tiga tahun ke depan. “Yang mengerjakan pihak ke tiga,” ujarnya belum lama ini.

Khatulistiwa Park akan menjadi lokasi wisata dan rekreasi modern yang dapat dinikmati masyarakat Kalbar maupun wisatawan.  “Pengembangan Khatulistiwa Park tersebut dapat menjadikan Pontianak destinasi wisata unggulan di Kalbar. Karena di sini akan banyak sekali wahana permainan, dan objek pendukung lain,” katanya.

Meski pembangunannya belum tuntas, keberadaan Khatulistiwa Park sudah terasa. Berbagai gazebo dan cottage bernuansa kayu dan tropical sudah berdiri. Beberapa patung pun sudah ada di area tugu yang menjadi identitas Pontianak ini.

“Selain itu, akses menuju Tugu Khatulistiwa juga kian bervariasi. Salah satunya adalah kapal wisata yang siap mengantar wisatawan dari Taman Alun Kapuas dan titik lain menuju Tugu Khatulistiwa,” ujar dia.

Sementara itu, rute yang panjang di Sungai Kapuas pernah dijajal Kepala Disporapar Kalbar Kartius. Belum lama ini pihaknya mengemas wisata Sungai Kapuas dengan sesuatu  yang baru, yaitu Kapuas River Cruise Adventure menjelajahi Sungai Kapuas dengan Kapal Bandong dari Danau Sentarum  sampai Pontianak.

“Kita membawa turis dari Malaysia, Brunai Darusalam dan lainnya menjelajahi Sungai Kapuas dengan kapal bandong dari Kapuas Hulu sampai ke Pontianak. Ternyata mereka senang sekali. Banyak yang mereka lihat dari kebudayaan masyarakat dan keindahan alam, serta satwa dan tumbuhan kita,” ucapnya. (ars)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

2 × 3 =